Cerita Inspirasi Berkenaan Diri Sendiri

  • September 15, 2010 at 5:44 pm in

Nama saya faridah lestari, biasa dipanggil ida atau lestari. Saya lahir di Jakarta sepuluh maret seribu Sembilan ratus Sembilan puluh tiga. Anak pertama dari tiga bersaudara. Ayah seorang satpam diperusahaan swasta dan ibu seorang ibu rumah tangga. Kedua adik saya masih duduk dibangku sekolah dasar.

Alhamdulilah sekarang saya sudah duduk dibangku kuliah di IPB lewat jalur PMDK. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas alhamdulilah lancar, tidak ada yang tinggal kelas. Prestasi yang saya dapat selama sekolah memang tidak terlalu membanggakan tapi alhamdulilah masuk sepuluh besar. Selama disekolah pun saya jarang aktif diorganisasi karena tidak dapat ijin dari kedua orang tua. Banyak hal yang membuat ayah dan ibu tidak mengijinkan saya aktif diorganisasi. Salah satunya adalah karena jarak dari rumah kesekolah terlalu jauh. Ayah dan ibu khawatir banget jadinya berangkat pulang sekolah selalu diantar itu berlangsung sampai saya duduk dibangku sekolah menengah atas.

Semenjak saya diterima di IPB, saya harus tinggal jauh dari ayah dan ibu. Dari bangun tidur sampai tidur lagi semuanya harus saya lakukan sendiri. Itu hal yang sangat tidak biasa saya lakukan selama ini tapi mulai dua puluh delapan juni dua ribu sepuluh saya harus terbiasa dengan itu semua. Tak pernah saya bayangkan saya akan merasakan kehidupan yang seperti ini. Tapi harus gimana lagi saya harus menjalani ini semua. Ini keinginan ayah dan ibu. Menurut mereka ini terbaik untuk saya. Yaa apa boleh buat saya harus mulai blajar dikehidupan baru ini dari nol.

Awal-awal sampai saat ini saya belum bisa terbiasa dengan keadaan seperti itu. Apalagi dibulan ramadhan kemarin. Sahur dan buka tanpa ayah, ibu dan adikadik. Mencari makanan sendiri setiap hari, pulang kuliah tanpa sambutan hangat ayah, ibu dan adikadik. Ini kepahitan hidup yang saya sedang jalani, huuuhuuu lebaaayyy dahh
Tapi setelah saya pikir memang ini yang saya harus jalani sekarang, proses menuju kedewasaan, belajar hidup mandiri.
Mungkin saat ini saya masih butuh waktu untuk beradaptasi, beradaptasi dengan lingkungan dan beradaptasi dengan pola kehidupan yang baru.
Kemarin saya mengalami kegagalan di matrikulasi tapi saya bertekad smoga hanya kegagalan itu yang saya dapat selama duduk dibangku kuliah.
Sempet down garagara itu, ayah ibu kecewa tapi alhmdulilah saya masih punya ayah ibu sahabat sahabat yang selalu support saya.
Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
Prinsip itu yang selalu saya pegang. Berfikir positif dan pantang menyerah. Saya harus membanggakan kedua orang tua saya.

Kegagalan kemarin dimatrikulasi gaboleh membuat saya patah semangat, mungkin saya masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan dan saya harus mengubah pola hidup dan menatanya dengan sebaik mungkin agar tidak ada kegagalan lagi dikemudian harinya.

Ayah dan ibu menanti hasil terbaik dari saya. Saya harus SEMANGAT dan terus SEMANGAT.

Cerita Inspirasi Berkenaan Orang Lain

  • September 15, 2010 at 5:28 pm in

Nama saya faridah lestari, biasa dipanggil ida atau lestari. Saya lahir di Jakarta sepuluh maret seribu Sembilan ratus Sembilan puluh tiga. Anak pertama dari tiga bersaudara. Ayah seorang satpam diperusahaan swasta dan ibu seorang ibu rumah tangga. Kedua adik saya masih duduk dibangku sekolah dasar.

Yang menginspirasikan saya selama ini adalah sebuah cerita yang intinya mengenai 5 kualitas dari sebuah pensil.

“Kualitas pertama, pensil dapat mengingatkanmu bahwa kau bisa melakukan hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kau jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkahmu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.

“Kualitas kedua, dalam proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil yang kita pakai. Rautan itu pasti akan membuat pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, pensil itu akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga denganmu, dalam hidup ini kau harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.

“Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.

“Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.

“Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kita, kau harus sadar kalau apapun yang kau perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”.

Jadii, crita yang berisi tentang kualitas 5 pensil itu yang menginspirasi saya.
Tak terbayang oleh saya sebelumnyaa bahwa pensil mempunyai kualitas yang seperti itu.